GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Rabu, 28 April 2010

MENGENALI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA EMAS


--“The desire of gold is not for gold. It is for the means of freedom and benefit.” R. W Emerson--

Meskipun perlu, sebenarnya tidak terlalu penting bagi kita untuk mempelajari terlalu dalam data pergerakan harga emas, kemudian mengambil kesimpulan tentang trend, lalu membuat prediksi-prediksi harga emas di masa datang, apalagi sampai menetapkan teori atasnya.

Karena jika niat kita ‘lurus’ hendak menyelamatkan harta, ditambah dengan harapan jangka panjang untuk menaikkan ‘value’ simpanan diri pribadi atau keluarga, maka sesungguhnya tak ada yang namanya ‘waktu yang salah’ untuk mengawali pembelian atau penyimpanan Dinar. Tak ada istilah ‘waktunya kurang tepat’, atau ‘saatnya memborong’ dalam investasi Dinar emas.

Apalagi jika kita berinvestasi dalam Dinar emas atau emas pada umumnya dalam kerangka upaya individu, bukan dengan niat komersial. Beda halnya jika Anda menjalankan sebuah usaha yang memperjual-belikan emas, misalnya toko emas atau usaha pemurnian dan pencetakan emas, maka statistik yang menyangkut prediksi harga emas menjadi informasi terpenting bagi bisnis Anda.

Selain itu, harga emas terlalu sulit untuk diramalkan. Nanti waktu kita sia-sia, habis untuk mengamati pergerakan harga berupa grafi-grafik di layar kaca. Para ahli sendiri lebih mampu menyajikan prediksi harga emas dalam jangka menengah dan panjang, diatas 6 bulan. Emas adalah komoditas yang sangat independen, harganya hampir sepenuhnya dipengaruhi pasar. Meskipun pemerintahan-pemerintahan di dunia berusaha mempengaruhi harga emas, kemampuan mereka terbatas dan makin lama makin habis pengaruhnya.

Jika kita lihat trend jangka panjang harga emas, apa yang telah terjadi selama 1.400 tahun semenjak Dinar dan Dirham ditetapkan sebagai mata uang resmi dalam kekhalifahan Islam, maka data itu sebetulnya telah sangat banyak bercerita.

Pak Muhaimin Iqbal, dalam berbagai tulisannya di geraidinar.com dan buku-buku tentang Dinar dan Dirham, menjelaskan banyak teori yang bisa gunakan untuk memprediksi harga emas, yang biasanya dihubungkan dengan kondisi ekonomi dunia, inflasi dan kehancuran uang kertas, diantaranya Greenspan-Guidotti Rule, Deret Fibonacci, prediksi harga emas versi National Inflation Association (NIA), dan lainnya.

Teori-teori tersebut akan sangat bermanfaat bagi kita, apalagi jika kita memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan dan menganlisis informasi dari berbagai sumber. Jika ilmu ini kemudian digunakan sebagai sarana syiar untuk mengembalikan kesadaran umat Islam kembali pada Dinar atau emas pada umumnya, maka tentu berlipat-lipat pahala amalnya.

Lalu bagaimana dengan yang awam ? Bagaimana bagi mereka yang tak cukup waktu, mungkin karena kesibukannya, atau tak punya informasi yang cukup ke sumber-sumber informasi terpercaya ?

Berikut ini kami sajikan beberapa gejala lokal, regional hingga global yang mudah kita tangkap, terutama melalui media cetak dan elektronik, yang jika terjadi dapat mendorong naik harga emas :
- Kepanikan financial secara global
Menengok sejarah di belakang, krisis global biasanya terjadi dalam skala menengah setiap 5 tahun sekali, dan krisis besar setiap 10 tahun sekali. Jadi kita hidup dalam tekanan-tekanan ekonomi yang membuat daya tahan kesejahteraan dan kemakmuran kita menjadi rentan. Dalam situasi tak pasti ini, harga emas justru naik. Diantara depresi, resesi dan krisis ekonomi yang pernah terjadi adalah Great Depression 1930, krisis local di AS tahun 1970 – 1971, tahun 1980 krisis energi dunia karena harga minyak naik, krisis tahun 1998 yang menyapu sebagian besar negara berkembang, dan terakhir tahun 2008 hantaman krisis kembali menimpa Amerika.

- Angka inflasi naik tak terkendali
Angka psikologis 2 digit (misalnya 13%) pada inflasi menandakan sesuatu yang tak nyaman telah terjadi, berakibat pada naiknya harga-harga. Pada situasi inflasi naik, maka nilai emas juga makin tinggi melebihinya. Pada tahun 2009 lalu, performa emas meyakinkan dengan naik 24,9% setahun, ‘meninggalkan jauh’ inflasi yang cukup rendah di bawah 10%. Inflasi hanya mengikis nilai uang kertas, tapi tak mempengaruhi sedikitpun harga emas.

- Kejadian politik besar yang mempengaruhi kestabilan politik internasional
Kejadian-kejadian seperti 9/11, perang 7 tahun Iran vs Irak, penyerbuah Irak ke Kuwait, dan lainnya, terutama yang melibatkan negeri-negeri barat dan Timur Tengah sebagai pemasok utama minyak dunia, membuat situasi tak menentu. Dalam situasi seperti ini, emas selalu jadi pegangan dan sandaran. Emas justru naik ketika situasi geopolitik membuat cemas tak menentu.

- Kurs Dollar menguat
Banyak orang menyangka jika Dollar melemah terhadap mata uang lain, misalnya terhadap Rupiah, maka harga emas akan turun. Padahal tidak. Harga emas dunia masih ditakar dengan US Dollar. Sehingga jika menguat, maka harga emas akan terbawa naik.

- Kenaikan harga minyak dan harga komoditas pada umumnya
Dalam grafik yang menunjukkan pergerakan nilai yang membandingkan emas dengan komoditas lainnya selama puluhan tahun, terlihat bahwa kenaikan keduanya proporsional. Ketika harga kebutuhan pokok naik, harga minyak mentah dan emas juga naik. Kenaikan yang proporsional ini sebetulnya menunjukkan kehebatan dasar dari emas, yaitu nilai belinya terhadap komoditas selalu tetap. Sementara uang kertas berkebalikan : daya belinya terus menurun terhadap komoditas.

- Naiknya permintaan emas sebagai cadangan devisa negara
Ketika terjadi berbagai tekanan dan goncangan ekonomi dunia, negara-negara biasanya – seperti biasa – mencari pelarian ke emas untuk memperkuat ketahanan ekonomi negaranya. Contohnya ketika krisis ekonomi AS makin parah tahun lalu, dimulai bulan September 2009 negara-negara seperti China, India, Mauritius dan Sri Lanka memperkuat cadangan devisanya berupa emas seberat 403 ton. Permintaan yang demikian banyak, ditambah situasi krisis yang belum usai, membuat harga emas meroket hingga ke titik tertingginya USD 2.000 per troy once pada awal Desember 2009.

- Naiknya konsumsi emas dunia dan permintaan emas di pasar lokal
Pada situasi ini, hukum permintaan dan penawaran yang berlaku. Ketika permintaan emas di pasar local maupun dunia naik, maka akan mendorong naik harga emas. Mengapa sebab-akibat ini terjadi dalam pola yang sama dan demikian sederhana ? Sebabnya adalah karena jumlah cadangan emas di perut bumi bertambah seiring pertambahan jumlah populasi manusia, yaitu sekitar 1,5% saja per tahun. Jadi emas selalu cukup, namun selalu langka. Emas tak pernah kelebihan supply yang membuat harganya turun. Yang terjadi sebaliknya : penambangan dan pengolahannya terbatas, sehingga emas tetap saja langka. Ketika permintaan naik dan supply tetap, maka otomatis harganya naik.

Bagi seorang muslim, kemampuannya dalam memahami gejala di perokonomian dunia sehingga dapat membaca arah pergerakannya adalah hal yang baik sekali. Tidak saja untuk keperluan memprediksi harga emas, melainkan juga untuk mengamati peluang dan ancaman global terhadap Islam secara umum.

Sense of war, termasuk di dalamya economic war, adalah insting yang perlu terus diasah pada diri-diri seorang muslim.

Minggu, 25 April 2010

REFORMASI MONETER UMAR IBN KHATTAB


Dalam kajian-kajian disiplin ilmu bisnis dan marketing dua tahun belakangan ini, kita kerap mendengar istilah CHAOTIC. Atau CHAOS market, juga CHAOS situation. Saya juga pernah share sebuah tulisan lainnya sebelum ini yang berjudul "2010 : Welcome to the New Normal" (silakan ke www.salmadinar.com bagi yang ingin membaca secara lengkap), yang mengulas isu yang sama, namun lebih banyak dari sisi keuangan pribadi dan rumah tangga.

Dalam situasi chaos, yang terjadi adalah perubahan yang sangat cepat dan massive di lingkungan ekonomi, kompetisi dan pasar/konsumen. Dampak yang dirasakan pelaku usaha bisa sangat mematikan, berbeda dengan tantangan bisnis biasa yg terjadi sesekali, menimbulkan riak-riak kecil dan lokal sifatnya. Kita tentu ingat bagaimana raksasa Nokia pada tahun 2008 masih menjadi pemimpin pasar handset (handphone) di Indonesia, bisa tergusur tanpa aba-aba pada 2009 ditumbangkan Blackberry. Dan ini tak terjadi hanya di pasar domestik, namun juga di banyak negara. Demikian juga GM (General Motors) yang masuk jurang hanya dalam 5 tahun setelah terlilit permasalahan internal, kemudian benar-benar dibuat KO oleh krisis financial terakhir yang terjadi 2008 – 2009 lalu.

Bagi perekonomian sebuah negara, chaos yg terjadi dan mempengaruhi lingkungan industri bisa menyapu dalam sekejap pilar-pilar ketahanan ekonominya, apalagi bagi negara yg dibangun dari indikator kemakmuran semu, yang 'maju dan sejahtera' hanya di hitungan atas kertas dan laporan kinerja keuangan semata.

Dalam perencanaan bisnis maupun RAPBN, ekonomi adalah aspek uncertain (ketidakpastian) yang selalu muncul jadi momok. Itu berlaku di industry apapun dan negara manapun. Sudah pun uncertain, impaknya sangat besar jika terjadi. Apa jadinya jika harga minyak dunia naik dari USD 65 menjadi 130 dalam waktu 2 bulan ? Seluruh rencana jadi buyar, strategic planning yang dibuat untuk rentang 10 tahunan harus direvisi seketika, asumsi-asumsi tinggal cerita.

Apa jadinya jika sekelompok debitur, yang tak qualified dari awalnya, gagal bayar untuk kredit rumah yang sebetulnya memang tak pantas mereka miliki ? Krisis financial yang awalnya menumbangkan para pemain raksasa bisnis keuangan yang belum berlalu kemarin itulah akibatnya. Dan industry yang menikmati jasa keuangan semisal mereka, dimanapun, kena dampaknya. Beberapa perusahaan di Indonesia juga.

Maka diantara banyak solusi menghadapi situasi seperti ini, baik negara atau badan usaha, para ahli menganjurkan salah satunya adalah dengan reposisi diri, kembali ke kompetensi dan nilai inti. Istilah kerennya : menemukenali inti diri dan kembali ke DNA-nya. Karena DNA adalah ciri khas, pembeda utama. Dengan idealisme, nilai dan prinsip inti itu, sebuah negara atau organisasi bisa menjalankan aktivitas usaha dengan passion-nya. Dan passion melahirkan usaha tak kenal henti, inovasi, sensitivitas dan kelincahan yang tinggi dalam menghadapi berbagai situasi. Kesiapan untuk bergerak dan berubah itulah sesungguhnya bekal esensial menghadapi situasi chaos yang terjadi.

Dalam kacamata umat Islam, DNA itu adalah Al-Islam itu sendiri. Sesuatu yang telah kita punya dan membuat kita berbeda dan unggul dari ummat lain. Fitrah yang telah Allah anugerahkan untuk kita.

Situasi tak menentu sekarang sesungguhnya memberikan peluang kita untuk melakukan reformasi moneter. Dunia haus dan merindukan jawaban, dan kita seharusnya membawa Islam maju ke panggung terdepan untuk membawa solusi. Dengan cara apa ? Kembali ke DNA yaitu ajaran Al-Islam. Dan salah satu disiplin dalam penegakan ekonomi Islam adalah pengelolaan moneter / keuangannya.

Mengapa reformasi moneter ? Karena uang merupakan salah satu faktor kekuasaan dan kemandirian ekonomi. Karena itu uang merupakan salah satu bidikan terpenting dalam perang ekonomi antar negara. Ketika ekonomi suatu negara akan diguncangkan atau dijatuhkan, maka segala rekayasa diarahkan, sebagai prioritas utama, kepada uang negara tersebut. Goyahnya nilai uang, akan membuat goyahnya ekonomi secara keseluruhan. Tak lama, kemerdekaan, harga diri dan hak-hak negara terenggut.

Sebagai acuan, kita bisa melihat bagaimana khalifah Umar ibn Khattab melakukan reformasi moneternya kala itu :
1. Islam melarang setiap hal yang berdampak pada bertambahnya gejolak dalam daya beli uang, dan ketidakstabilan nilainya yang hakiki, dengan cara :
a. Pengharaman perdagangan uang, yaitu dengan mengharamkan riba yang merupakan salah satu persoalan terbesar moneter hingga saat ini
b. Pengharaman penimbunan, dikarekan dampaknya terhadap harga dan daya beli uang. Bandingkan dengan saat ini dimana penabung justru diiming-imingi hadiah agar memperbesar tabungan yang artinya uang tertimbun di bank.
c. Pengendalian inflasi, diantaranya dengan cara pengawasan kestabilan uang dan kebijakan politik yang mengarah padanya
2. Memastikan tak beredarnya uang palsu, terutama Dirham dengan terlalu banyak campuran logam tak berharga di dalamnya, karena uang berperan sesuai fungsinya dan terlindungi nilainya jika murni dan dipercaya rakyat.
3. Mengendalikan inflasi, cukup dengan menghimbau rakyat agar menginvestasikan uang (pada sector riil), sederhana dalam pembelanjaan, melarang berlebiih-lebihan dan menghambur-hamburkan uang.
4. Penyatuan uang / mata uang tunggal, karena selain mencerminkan upaya ekonomi, hal ini juga menunjukkan kesatuan politik dan kepemimpinan. Dasar penyatuan ini adalah sabda Rasulullah SAW “Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, sedangkan takaran adalah takaran penduduk Madinah”. Implikasi kebijakan moneter yang satu ini tampak pada pencetakan Dirham sesuai timbangan syar’i dan Dinar, sebuah standar baru dalam moneter Islam yang kemudian menjadi acuan generasi-generasi Islam berikutnya.

Inilah jawaban Islam atas segala persoalan ketidakpastian ekonomi saat ini. Islam adalah pandangan hidup sekaligus jatidiri seorang muslim. Akankah kita bergegas kembali padanya ?

Allahua'lam