GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Senin, 15 November 2010

WORLD CURRENCIES : THE BIG RACE TO THE BOTTOM



Written by Endy Junaedy Kurniawan

Entah bagaimana ceritanya, lahir dari akal sehat ataukah refleksi kehilangan harapan, Robert Zoellick, presiden World Bank, pekan lalu menyerukan agar emas ‘dapat dijadikan referensi penentu uang dunia’. Dengan lebih gamblang ia menyebutkan bahwa ‘kita memerlukan emas sebagai acuan yang menghindarkan kita dari inflasi, deflasi serta menjadi mata uang masa depan’.

Pandangan yang ia keluarkan ini, sebuah ajakan kembali ke Gold Exchange Rate a la Bretton Woods tahun 1944, terdengar unik mengingat negara-negara maju saat ini berlomba menjatuhkan nilai mata uangnya dalam ‘balapan menuju ke dasar’ (big race to the bottom) yang bernama Currency War. Upaya sungguh-sungguh yang dilakukan para kepala negara dalam sidang-sidang marathon G-8, The Fed, G-20, APEC, sepertinya sangat serius, meskipun belum terlihat hasilnya. Dan, World Bank, melalui Zoellick, yang merupakan representasi kepentingan negara besar penguasa ekonomi dunia, menjadi kontroversial ketika mengeluarkan pandangan yang melawan arus seperti itu.

Stimulus-stimulus yang dilakukan negara-negara kuat seperti Amerika dan Jepang, adalah aktivitas yang terdengar aneh bagi yang awam ekonomi, bagaimana mungkin upaya yang disengaja untuk membuat rendah mata uang negara sendiri terhadap negara lain, disebut sebagai upaya ‘penyehatan ekonomi’. Di kacamata kita bersama, makin kuat mata uang, makin OK ekonomi suatu negara. Di situasi sekarang, tidak demikian.

Disisi lain, ajakan ini kemudian bisa jadi sangat kita maklumi mengingat kehancuran uang kertas itu begitu di depan mata, sehingga kemudian dunia memerlukan mata uang ‘baru’ yang adil sebagai alternatif alat tukar yang berlaku saat ini. Sebagian menyebut bahwa perang mata uang ini baru akan selesai dalam waktu 5 tahun - menghabiskan seluruh energi negara yang terlibat didalamnya. Atau berhenti dengan cepat, diselesaikan dengan perang dalam arti pertempuran fisik.

Kita memahami bahwa sebagian besar negara, semenjak tahun 1924 hipokrit dan penuh rekayasa. Mendua pandangan akan posisi emas sebagai sandaran kesejahteraan negara dan rakyatnya. Menerapkan berbagai kebijakan dan strategi untuk mengakal-akali dan menutupi kemilau nilai emas yang hakiki.

Pada tahun 1933, Roosevelt pernah sengaja melepaskan kurs Dollar dari harga emas internasional agar harga komoditas tak ikut naik ketika harga emas mengalami kenaikan. Sementara di dalam negeri, ia membekukan ekspor emas dan melarang warga Amerika untuk menukarkan dollar dengan emas. Kontradiktif.

Anehnya, sebagai sponsor Bretton Woods Agreement tahun 1944, Amerika yang terlihat anti emas, malah mengajak untuk memformalkan ketentuan pencetakan uang : pengeluaran 35 uang dollar (35 USD) harus terkait dengan emas 1 ons sebagai backup.

Tahun 1971, tindakan aneh kembali dilakukan. Setelah pencetakan uang besar-besaran tak terikat lagi dengan emas dilakukan oleh Amerika, Nixon mengajak untuk meninggalkan emas sepenuhnya dengan Smithsonian Agreement, maka dunia masuk ke ke era floating rate hingga kini.

Inggris pun hingga saat ini mengenakan pajak sangat besar bagi pembelian emas yaitu 17,5% untuk menghalangi penguasaan emas oleh sektor private.

Sekarang, Amerika, yang pro kebijakan moneter liberal, ternyata menyimpan 8.000 ton emas sebagai cadangan bank sentralnya. Ini melebihi penjumlahan cadangan emas Jerman dan IMF sekaligus yang ada di peringkat kedua dan ketiga.

Dari 10 negara yang memiliki cadangan emas terbesar, hanya 3 negara yaitu China, Rusia dan Amerika sendiri yang juga merupakan 10 besar negara penghasil emas. Selebihnya adalah negara-negara barat yang dengan ‘disiplin dan kesadaran penuh’ justru menyimpan harta hakiki itu dalam dekapan negaranya.

Cina adalah negara yang terus menganjurkan negaranya melalui bank sentral, maupun masyarakatnya, untuk menyimpan emas banyak-banyak. Setelah di awal krisis perumahan 2008 Cina mengimpor 200 ton, pekan lalu, inisiatif ini diteruskan dengan target 600 ton hingga akhir tahun ini, dan 600 ton berikutnya di tahun 2011.

India, Pakistan, Sri Lanka pada 2008 melakukan hal yang sama. Mengkonversi cadangan devisa dari USD menjadi emas. Agustus lalu, Vietnam melonggarkan keran impor emas agar komoditas riil itu masuk ke kantung-kantung rakyatnya. Permintaan-permintaan yang menguat dari berbagai negara ini termasuk yang mendorong tinggi harga emas mulai krisis 2008 hingga kini.

Bagaimana dengan Indonesia, negara penghasil emas terbesar ke-7 di dunia, atau oleh orang-orang barat yang ‘jujur’ Indonesia disebut sebagai peringkat 1? Yang jelas, 73.8 s.d 75 ton yang dimiliki bank sentral adalah jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan cadangan negara-negara lain, apalagi dibandingkan dengan produksi emas dalam negeri yang mencapai 7% terhadap produksi emas dunia. Hingga kini, kita belum melihat kebijakan khusus yang massive untuk memborong lebih banyak emas sebagai cadangan devisa.

***
Itulah yang terjadi sekarang, banyak negara mengajak berpaling dari emas, sementara mereka diam-diam menimbun emas untuk sandaran ekonomi negeri yang hakiki. Jika negara tak terlalu peduli, emas di kantung-kantung masyarakat-lah yang paling mungkin untuk terus ditambah secara mandiri. Penyadaran di tingkat masyarakat ini harus terus digalakkan.

Kembali ke isyu Bretton Woods Jilid-2 yang digulirkan bos World Bank. Belakangan, Zoellick mengklarifikasi ucapannya. Ia tak sedang menganjurkan agar kita kembali ke masa “Gold Exchange Rate” tahun 1944 - 1971 lalu. Yang ia ucapkan sesungguhnya ajakan untuk “mulai menyadari” bahwa ada emas yang bisa dijadikan alat tukar. Dalam banyak transaksi, ia telah melihat emas menjadi sesuatu yang wajar untuk dipertukarkan sebagai medium of exchange, karena rendahnya kepercayaan orang (terhadap mata uang kertas).

Ada persoalan mata uang yang harus diselesaikan. Dan jalan keluar itu, diakui ataupun tidak, adalah alat tukar emas. “There is elephant in the room (gold) and that is what I want people to recognize” lanjut Zoellick.

Bisa jadi, bukan “Gold Backup Currency” yang pernah lahir kemudian gagal (1944 - 1971) yang layak lahir kembali, melainkan “Real Gold Currency” berupa Dinar yang telah berfungsi baik selama 1.500 tahun yang akan menjadi solusi.

Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment