GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Minggu, 09 Mei 2010

CARI UANG APA CARI UNTUNG ?


Saat menabung di bank, Anda pasti ditawari dua hal : bunga (atau bagi hasil) dan hadiah. Banyak ragam dan tinggi nilainya, seperti perhiasan, mobil dan motor. Hadiah diundi diantara penabung.

Sementara dalam Islam, kita tidak dianjurkan menimbun harta dalam jumlah di luar keperluan yang sewajarnya. Kita didorong untuk memutar harta kita agar berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas.
Saat sosialisasi Dinar saya sering ditanya : bukankah memiliki Dinar berarti kita juga menimbun harta ? Saya telah menjawab hal ini secara lengkap dalam sebuah artikel beberapa saat lalu, yang intinya bahwa menabung Dinar secukupnya untuk menafkahi kebutuhan di masa mendatang justru dianjurkan melalui nash di hadits dan ayat.

Pertanyaan serupa sebetulnya bisa diajukan kepada para penabung (uang kertas) yang memiliki dana hingga ratusan juta bahkan milyaran dalam bentuk tabungan maupun deposito di bank. Perilaku seperti ini sebetulnya telah melemahkan ekonomi di satu sisi, juga merugikan diri di lain sisi.

Bagaimana penjelasannya ?

Sejak pembatalan sepihak Amerika terhadap perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 yang menyebabkan nilai mata uang tak lagi terikat dengan emas, ekonomi dunia ini makin ganjil ketika pada 1986 dikembangkan berbagai produk derivative di Wall Street, yang melepaskan keterkaitan sector moneter dan sector riil.
Sejak saat itu, sector moneter telah berkembang demikian cepat melampau batas-batas negara. Hal ini dipermudah karena teori ekonomi konvensional telah rancu mencampuradukkan antara istilah UANG (money) dan MODAL (capital).

Konsep yang tercampur aduk ini yang kemudian membuat ada banyak perusahaan yang membesar karena dagang uang tanpa berjualan dan mendapat untung dari komoditas atau produk. Sebagian besar nama-nama perusahaan itu telah tumbang seiring terjadinya krisis, termasuk krisis 2009 yang baru lalu. Mereka termakan ulahnya sendiri.
Bahkan kemampuan dalam melakukan ‘financial engineering’ adalah salah satu kompetensi yang dipersyaratkan perusahaan ketika mencari seorang CEO. Mereka tak mencari orang yang pandai dan berbakat dalam mencari keuntungan melalui upaya bisnis riil. Yang dicari adalah orang yang pandai cari uang, bukan cari untung. Karena uang yang didapatnya itu yang kemudian diputarnya untuk mendapatkan untung. Uang yang jadi komoditas. Sesuatu yang haram dalam Islam.

Dalam Islam, tegas dan jelas dibedakan antara uang dan modal. Uang adalah flow concept, semakin cepat uang berputar akan semakin baik tingkat ekonomi. Sementara modal adalah stock concept. Kebalikan dari system konvensional yang memberikan bunga atas modal, Islam malah menjadikan modal sebagai objek zakat.
Juga, dalam Islam uang adalah barang publik, sementara modal/capital adalah barang pribadi. Karenanya penimbunan uang (ditabung banyak-banyak, disimpan tak berputar, diam tak produktif), berarti mengurangi jumlah uang beredar. Semisal aliran darah yang mengendap dan membuat lesu tubuh.

Sementara, modal adalah milik pribadi. Logikanya, modal harus diproduktifkan. Bagi yang tak bisa memproduktifkannya, Islam menganjurkan untuk melakukan musyarakah atau mudharabah, yaitu bisnis dengan bagi hasil. Dan bisnisnya adalah sector riil. Jika tak bisa, lakukan qard, pinjamkan capital tanpa imbalan / bagi hasil. Pinjamkan 1 juta, dikembalikan 1 juta dalam tempo tertentu. Atau pinjamkan 2 Dinar, dikembalikan 2 Dinar. Dinar lebih adil karena nilainya tetap. Jika uang kertas, 1 juta dikembalikan 1 juta sebetulnya mendzalimi peminjam, karena inflasi telah menggerogoti nilainya, apalagi jika tempo waktunya lebih dari 1 tahun.
Bagaimana jika modal kita diam saja ? Kena zakat atasnya.

Meski masih dalam bayang-bayang regulasi bank sentral, inilah sisi lain mengapa selain menghindari riba, kita lebih dianjurkan, bahkan diwajibkan meletakkan dana yang secukupnya tadi di bank syariah, karena bank syariah lebih jelas pemanfaatan dananya yaitu digunakan seoptimal mungkin untuk pembiayaan sector riil. Bukan dimainkan dan diputar di sector keuangan sebagaimana bank konvensional.
Lalu apakah ini yang terbaik ?

Seandainya bisa memilih, tabungan bukan dalam uang kertas lah pilihannya. Inflasi akan menjadi momok yang terus menghantui nilai tabungan kita. Tingkat hasilnya tak mampu menumbangkan tingkat inflasi. Kami tetap menganjurkan Dinar, pelindung nilai harta hasil jerih payah kita.

Inilah yang kami maksud bahwa menabung secara berlebihan, telah melemahkan ekonomi di satu sisi karena menyebabkan mandegnya ekonomi, juga merugikan diri di lain sisi karena mengikis nilai harta kita.

Sebagai ultimate target, tentu lebih besar lagi impact-nya jika kita menggunakan Dinar juga sebagai pembiayaan usaha, dan sebagai alat transaksi.

Insha Allah, dengan kesadaran yang terus kita bangun, kita semua menuju kesana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment