GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Senin, 09 November 2009

Warisan Yang Sangat Berharga


“Dan hendaklah takut kepada Allah orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An Nisaa’ [4]:9)

Sebahagian besar dari kita mendapat amanah dari Allah berupa anak-anak yang harus kita didik dan cukupi segala kebutuhan mereka. Dan tidak ada yang lebih kita inginkan selain mewariskan kepada mereka bekal yang cukup untuk kelak menjalani kehidupan mereka dengan baik. Bekal itu adalah pendidikan dan materi yang cukup.

Kita sangat peduli dengan pendidikan anak-anak kita. Kita memasukkan mereka ke sekolah-sekolah yang menurut kita, sangat baik kualitasnya. Kita juga memberi kesempatan kepada mereka untuk menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya demi untuk prestasi mereka dan prestise kita sendiri sebagai orang tua.

Demikian juga dengan harta. Tidak ada seorang orangtua pun di dunia ini menginginkan anaknya hidup susah kelak ketika dewasa. Lebih-lebih ketika kita pernah merasakan kesusahan itu. Kita sebagai orangtua berusaha untuk mengumpulkan harta dengan segala daya upaya agar dapat kita wariskan kepada anak-anak kita. Ketika kita dapat mewariskan harta yang cukup untuk kebutuhan pendidikan mereka, kita berusaha untuk mewariskan rumah untuk mereka. Dan jika inipun sudah terpenuhi, kita masih ingin lebih lagi yaitu mewariskan usaha yang kita miliki untuk mereka. Tidak pernah habis-habisnya keinginan kita agar mereka tidak merasakan kesusahan di masa mendatang.

Bagaimana dengan pendidikan agama anak-anak kita? Kita mungkin berpikir, bahwa dengan memasukkannya ke sebuah sekolah Islam, hal itu sudah mencukupi. Kita berpikir bahwa disana mereka telah mendapat pengajaran tentang sholat, puasa, berdoa dan lain-lain. Tapi hal itu bisa jadi tidak sesuai dengan harapan kita. Ketika anak-anak kita telah beranjak dewasa, sering kita dapati didalam mengerjakan sholat, tidak terlihat ada kekhusukan pada diri anak-anak kita. Tidak terlihat gerakan dengan kesungguhan (tuma’ninah) yang melambangkan ketundukan seorang hamba kepada Rabb Yang Maha Agung. Kadangpun mereka berbohong ketika kita bertanya kepada mereka apakah mereka telah menunaikan sholat atau belum. Kenapa hal ini terjadi?

Dalam ayat diatas, Allah mengingatkan hamba-Nya bahwa dalam mendidik anak, hendaklah kita selalu merasa cemas dengan keadaan yang akan dihadapi pleh anak-anak kita kelak. Jangan pernah merasa kita telah cukup mewarisi mereka dengan ilmu ataupun harta. Kecemasan yang terkendali akan selalu membawa kita peduli dan tanggap terhadap apa yang telah kita berikan dan apa yang akan kita berikan. Keyakinan bahwa semuanya telah cukup untuk diwariskan justru akan membawa kepada sebuah ketidakpedulian akan keadaan anak-anak kita yang bisa jadi kelak akan membawa kesengsaraan bagi sang anak sendiri.

Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan kepada kita di akhir ayat diatas bahwa dua hal terpenting dalam mendidik anak-anak kita adalah bekal “Taqwa” dan “Kejujuran”. Dan kita sebagai orangtua mutlak memiliki dua hal ini untuk kita wariskan kepada mereka. Bukankah dengan ketaqwaan pertolongan Allah itu akan selalu ada? Dan Allah akan memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa dari arah yang tidak ia sangka-sangka (QS Ath thalaaq [65]:3) dan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya (QS Ath Thalaaq [65]:4)? Bukankah ini sebuah bekal yang cukup bagi anak-anak kita kelak? Demikian juga “kejujuran” yang menjadi fondasi hubungan antar manusia. Tanpa kejujuran, seorang hamba pasti akan mendapat kesulitan dalam membina hubungannya dengan manusia lain.

“Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besarlah kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan (berbohong).” (QS Ash Shaff [61]:2-3)

Hendaklah kita memperhatikan sebuah riwayat dari seorang sahabat Rasulullah saw, Ibnu Abbas ra. ketika beliau masih kecil (lebih kurang berumur 10 tahun). Kisahnya amat dapat menjadi teladan bagi kita dalam mendidik dan mewariskan sesuatu kepada anak-anak kita.

Ketika aku (Ibnu Abbas ra.) masih kecil, aku pernah dipanggil oleh Rasulullah saw dan berkata dengan lembut: “Nak, aku ingin sekali mengajarkan kepadamu beberapa hal yang akan menjadi bekal engkau sampai ajal datang menghampiri.” “Apa itu ya Rasulullah?” Jawabku. Rasulullah menjawab, “Jagalah (perintah) Allah, pasti Dia akan menjaga dirimu. Jagalah (larangan) Allah, pasti engkau akan dapati Allah selalu berada dihadapanmu. Jika engkau ingin sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau mengharap akan pertolongan, mintalah pertolongan itu kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh manusia bersatu untuk memberikan kebaikan (manfaat) kepadamu hal itu tidak akan pernah terjadi kecuali Allah menghendakinya. Dan jika seluruh manusia bersatu hendak mencelakakan dirimu niscaya mereka tidak akan pernah mampu melakukannya tanpa kehendak Allah jua. Telah diangkat pena dan telah kering tinta pada lembaran-lembaran taqdir. (HR At-Tirmidzi)

Wallahu ‘alam Bissawab…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment