GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Minggu, 07 Maret 2010

SELUBUNG PENGHALANG CAHAYA EMAS


Meskipun emas, termasuk Dinar mulai marak diperbincangkan dan dijadikan sebagai pilihan investasi dan penyimpan nilai harta, bahkan saat ini juga mulai dijadikan alternatif tabungan untuk persiapan pendidikan dimasa depan, tabungan haji maupun umroh, zakat dan wakaf, mahar / mas kawin, bahkan dijadikan objek arisan dan mulai dijadikan media transaksi, sebetulnya berbagai kendala masih harus kita hadapi untuk makin mensosialiasikan penggunaannya di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu indikatornya adalah dari buku-buku panduan dan pengetahuan tentang emas sangat minim jumlahnya.

Di sebuah toko buku “K” yang terletak sebuah pusat perbelanjaan paling prestisius di jantung kota Jakarta, yang menjual seluruhnya buku berbahasa Inggris terbitan luar negeri, saya hanya bisa menemukan 2 judul buku tentang emas (bukan Dinar). Itupun terletak di baris rak paling bawah di kelompok item “INVESTMENT”. Saya hanya memilih satu buku, karena satu buku lainnya tampaknya kurang netral dan malah mengusung agenda agar pembacanya menjauhi emas.

Lalu akhir pekan kemarin saya mencoba masuk ke toko buku “G”, di konter terbesarnya, untuk mencari tahu hal yang sama. Saya juga hanya menemukan 2 buah buku tentang emas terbitan local, di tengah puluhan judul buku yang merayu dengan segala tips-nya untuk mengajak kita terjun ke investasi saham, valas, reksadana, property dan lainnya. Percaya atau tidak, kedua buku itu sama ‘nasibnya’, ada di rak paling bawah, dan kita harus jongkok bahkan duduk untuk menjangkaunya. Intinya buku-buku itu ada “di bawah rata-rata pandangan mata” di etalase, berarti diposisikan “kurang laku/diminati”, atau “dibuat tak laku”.

Bahwa tersedia beberapa buku lainnya yang membahas khusus tentang Dinar, misalnya 3 buah buku karangan pak M. Iqbal, atau buku-buku terbitan group Wakala Nusantara, memang benar adanya. Namun adalah fakta juga, bahwa buku-buku itu tak beredar cukup luas di jaringan toko buku yang mudah dijangkau masyarakat. Rendahnya penetrasi seperti ini juga adalah tantangan dalam memasyarakatkan Dinar dan emas pada umumnya ke masyarakat luas.

Tentang jumlah buku tentang emas dan Dinar yang sangat kurang, peletakan di rak buku yang kurang memadai, dan lainnya, mungkin saja sebuah kebetulan dan bukan hasil dari sebuah desain dan kesengajaan. Namun bila dikaitkan bahwa emas diposisikan sebagai ‘musuh’ bagi berkembangnya penjarahan negara berkedok ekonomi kapitalis, tampaknya bisa jadi ada hubungannya. Dengan alasan-alasan inilah kemudian kecemerlangan dan keindahan emas berusaha ditutupi.
##
Di Indonesia yang sejak 21 Februari 1967 menjadi anggota IMF, serta di negara lainnya yang dijerat IMF, disudutkannya posisi emas adalah ‘lumrah’. Negara kita terikat banyak hal dengan IMF, termasuk diantaranya tidak diijinkan untuk mengkaitkan nilai tukar Rupiah dengan emas (Article 4, section 2.b). Lalu dikaitkan dengan apa ? Anda sudah tahu jawabannya : US Dollar. Menurut Dick Ware, yang mantan pejabat IMF dan saat ini bekerja pada World Gold Council, pelarangan ini jelas-jelas merugikan negara-negara berkembang yang memiliki sumber emas tersendiri dalam jumlah besar seperti Indonesia.

Selain itu, anggota IMF juga harus melaporkan segala aktivitas yang terkait dengan emas, seperti cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral dan bank atau lembaga keuangan lainnya, produksi emas serta ekport dan import emas (Article VIII, Section 5.a).(Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar & Dirham, M. Iqbal, DinarClub dan Spirutual Learning Center, 2007)

Adapaun ada apa di belakang IMF, cerita mengenai keterkaitan mata uang dunia dengan US Dollar sebagai acuannya adalah kisah lama, dan sebagiannya bisa dibaca di artikel kami sebelumnya yang berjudul “Janji Palsu Bretton Woods” dan “Siapa The Fed”.
Barat, kita tahu, berupaya keras mengalihkan perhatian kita dari emas. Sementara mereka sendiri sesungguhnya tahu bahwa emas adalah penyimpan kekayaan yang paling hakiki. Bahkan IMF baru-baru ini, terlepas dari ada scenario apa lagi dibalik itu, telah menganjurkan perlunya alternatif pengganti USD sebagai acuan mata uang dunia. Dan dari banyak konferensi dan kesepakatan-kesepakatan tingkat tinggi, dorongan untuk menggunakan mata uang emas makin menguat.

Lalu apakah segala keterbatasan dan kenyataan tantangan di lapangan yang kita temui akan menghentikan kita ? Jawabannya tidak. Biarpun upaya kecil ini bagaikan mengumpulkan kerikil untuk membangun peradaban Islam yang berlandaskan Quran dan Sunnah, biarpun upaya ini bagaikan lemparan batu anak-anak Palestina ke tank-tank zionis Israel, kita tetap akan melakukannya. Karena kita tahu ini akan jadi catatan kebaikan bagi diri-diri kita, dari peran apapun yang kita bisa kontribusikan.

Kita tetap bisa meneruskan ladang amal dalam mensosialisasikan Dinar, karena kita tahu memindahkan keping demi keping Dinar ke kantong simpanan kaum muslimin berarti telah memindahkan sedikit demi sedikit penguasaan ekonomi dunia dari mereka yang mengandalkan uang hampa, kepada kita yang percaya pada mata uang yang Allah jamin dan tetapkan itu. Insha Allah.

Wallahua’lam bisshawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment