GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Sabtu, 10 April 2010

APAKAH DINAR BISA MENUNTASKAN MASALAH KEMISKINAN ?


Q : Apakah Dinar bisa memberi dampak pengurangan tingkat kemiskinan ? Orang di seputar saya membicarakan dinar tak beda dengan bicara tanah, mobil, motor, emas dan saham. Mohon penjelasan.

A : Sejujurnya, pertanyaan ini sangat saya tunggu-tunggu. Mengapa ? Karena saat ini memang sudah seharusnya masuk ‘periode’ dimana Dinar harus dibicarakan dan ditantang untuk memberi solusi ekonomi di tengah-tengah masyarakat. Agak berbeda dengan 5 – 6 tahun lalu, ketika awal Dinar diperkenalkan sebagai alternatif investasi yang pasif sifatnya.

Jawaban untuk pertanyaan ini bisa sangat panjang. Pertama karena alat tukar atau aspek moneter (dimana positioning Dinar aplikasi asalnya adalah disini) hanya sebagian kecil dari elemen ekonomi. Dan kedua, karena kemiskinan tidak selesai dengan hanya dengan langkah-langkah ekonomi, melainkan juga inisiatif hukum, social dan politik.

Implementasi sebagian kecil dan tidak integral dari nilai-nilai Islam dalam praktek berkeluarga, bermasyarakat, hingga bernegara, bisa saja membawa sedikit dampak positif, namun belum optimal. Bahkan salah-salah bisa jadi membuat situasi makin buruk. Contohnya Sudan, ketika pada 1984 berusaha mengintegrasikan system zakat dan pajak. Pengenaan pajak yang tidak komprehensif sebagaimana jaman Rasul SAW dan kemudian dihilangkannya pajak penghasilan, membuat kesenjangan ekonomi makin besar. Yang kaya makin kaya, yang miskin terpuruk.

Namun kita harus memakluminya sebagai sebuah proses, dan pengertian “KAFFAH” (komplet dan integral) dalam implementasi Islam sifatnya adalah dinamis. Kita tak boleh menghalangi setiap inisiatif yang berusaha menerapkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Bank Syariah misalnya, adalah upaya maju. Meskipun terbukti kebal krisis dan pertumbuhannya menggembirakan, kita melihat kecepatan bank syariah belum bisa mengimbangi tuntutan dalam menghidupkan sector riil produktif di masyarakat. Tapi apakah kita akan kritik dan matikan inisiatif yang baik ini ? Tentu tidak. Kita sebaiknya mendorongnya bergulir lebih besar, ditambah juga inisiatif yang lain di segala lini.
Demikian juga Dinar.

Saya akan meletakkan konklusi atas jawaban panjang saya di bagian bawah dengan menjawab “YA”, bahwa Dinar adalah salah satu solusi atas masalah kemiskinan.

PERTAMA, kita harus menyadari bahwa kemiskinan dalam sebuah negeri harus tersingkir dan digantikan oleh kesejahteraan. Dan Islam punya segala jawaban tentang ini. Karena blueprint hingga petunjuk pelaksanaan ekonomi Islam telah nyata ada dan diwujudkan dalam praktek di awal-awal kekhalifahan Islam, bahkan diawali di Madinah sebagai model praktek bernegara terlengkap yang pernah ada di muka bumi. Dan bukti kesuksesan praktek ekonomi Islami itu telah terbukti hasilnya membawa kemakmuran bagi seluruh masyarakat. Kita tentu sering mendengar kisah sulitnya mencari mustahik / penerima zakat di seluruh negeri karena masyarakatnya hidup sejahtera. Kita juga kenal gaya hidup para sahabat yang begitu bersahaja padahal mereka adalah konglomerat yang dari sebagian besar hartanya itu negeri jadi makmur, karena kebersamaan dan kesetaraan dalam Islam adalah nilai yang sangat ditekankan. Bahkan ekonomi Islam juga sangat mandiri dari awalnya, tidak tergantung dari negeri lain, tak berhutang, tak meniru system ekonomi. Seluruh aktivitas negara diatur dan dibiayai sendiri.

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang yang dimiliki negara tersebut, tetapi ditentukan oleh tingkat produksi (sector riil) dan neraca pembayaran yang positif. Sektor produksilah yang menjadi motor pembangunan, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pekerja, hingga ujungnya adalah menimbulkan permintaan atas faktor produksi lainnya.

Lihatlah kondisi ekonomi dunia saat ini. Ekonomi yang berbasis uang kertas berjalan karena sebagian besar (bahkan sangat besar) uang yang berputar di lantai bursa, transaksi pasar uang, bukan karena membiayai usaha dan konsumsi komoditas riil. Sebagian besar uang dipergunakan untuk memperdagangkan uang itu sendiri. Hanya 5% dari transaksi di pasar uang yang berkaitan dengan transaksi pasar barang dan jasa. Maka segala penyakit ekonomi telah menjangkiti kita, setiap saat bisa kambuh. Inflasi menghantui kapanpun dan menjadi perampok terbesar kesejahteraan kita. Kita harus rela 5 tahun sekali mengalami gejolak ekonomi skala menengah dan setiap 10 tahun sekali krisis besar.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa dalam Islam, kemakmuran yang berdampak kecilnya (bahkan hilangnya) angka kemiskinan bisa tercapai dengan ekonomi yang digerakkan sector riil, bukan sector keuangan.

KEDUA, dengan dasar penjelasan diatas, kami akan meringkas jawaban atas persoalan “Peran Dinar dalam Menanggulangi Kemiskinan” ini menggunakan 2 pandangan, yaitu (1) Tiga pilar Satanic Finance pak A. Riawan Amin dan (2) Roda penggerak system ekonomi Islam versi pak M. Iqbal Muhaimin

1) Tiga Pilar Ekonomi Setan
Pak Riawan Amin menyebut bahwa 3 pilar ekonomi setan adalah (1) FIAT MONEY (uang kertas yang hampa dan kosong melompong), (2) FRACTIONAL RESERVE REQUIREMENT (ketentuan cadangan minimum di bank, yang memuluskan praktek permainan uang melalui bank) dan (3) INTEREST (bunga bank). Tiga pilar itulah yang berjalan saat ini, yang dampak buruknya telah kita ketahui dan rasakan bersama diantaranya adalah pemiskinan massal sekaligus penyejahteraan beberapa gelintir orang. Sungguh sebuah ketidakadilan.
Dinar adalah pengganti pilar no (1) yaitu FIAT MONEY. Dinar adalah ‘pembebas’. Jika transaksi dalam masyarakat menggunakan Dinar yang nilainya tetap serta nilai ekstrinsiknya = kandungan emasnya, maka praktek penggandaan uang kertas tak bisa terjadi. Karena tak terjadi penggandaan uang kertas, maka perdagangan stabil, sehingga tak terjadi inflasi.
Selain itu, para ahli membuktikan penggunaan emas dalam transaksi perdagangan dunia, bisa menguntungkan, karena menghilangkan resiko volatilitas mata uang. Dengan hilangnya volatilitas yang disebabkan naik turunnya kurs valas, bisa mendorong perdagangan lebih besar.
Inflasi adalah perampok kesejahteraan, dan volatilitas mata uang adalah penghambat perdagangan. Tanpa keduanya, kesejahteraan meningkat dan kemiskinan tereduksi. Terlebih lagi jika perbankan Islam tumbuh tanpa ‘dibonsai’ regulasi bank sentral yang dipaksakan karena menggunakan basis perbankan ribawi, ditambah lagi optimalisasi pengelolaan dan penyaluran zakat, maka kemiskinan dapat terkikis lebih cepat.

2) Roda kesejahteraan berbasis Dinar
Meskipun Dinar dan Dirham sebagai alat lindung nilai kekayaan terbukti menguntungkan dan dapat membangun ketahanan ekonomi, manfaatnya jauh lebih banyak lagi. Dalam bukunya “Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham”, Pak Iqbal Muhaimin menyebutkan bahwa ekonomi Islam yang menyejahterakan digerakkan oleh empat roda yaitu :
o Uang yang Adil (yaitu Dinar dan Dirham)
o Pembiayaan Usaha bebas Riba (melalui Qirad / Mudharabah)
o Pasar yang Syar’i (tersedianya tempat perdagangan / jual-beli yang syar’i, dan pelakunya adil, jujur, hati-hati dan kompeten)
o Harta yang Berputar di Segala Lapisan (melalui zakat, infaq, sadaqah dan waqaf)

Dengan roda-roda ekonomi ini bergerak bersama, maka akan berdampak pada berlangsungnya praktek-praktek ekonomi yang berbasis sector riil, sebagaimana dijelaskan Ibnu Khaldun diatas. Dan kesejahteraan masyarakat meningkat, serta kemiskinan akan terkikis dengan sendirinya.

Mengenai poin kedua yang Anda tanyakan tentang ramainya minat masyarakat terhadap Dinar sebagai alat investasi, ini tanda-tanda baik dan menggembirakan. Setidaknya ini menjelaskan bahwa di masyarakat telah terjadi ‘penyadaran kolektif’ dan ‘ledakan partisipasi’ terkait alat investasi ‘konvensional’ (seperti saham, deposito, properti) yang mengecewakan, digantikan investasi yang ‘fitrah’ dan menjanjikan, yaitu Dinar dan Dirham.

Perlahan-lahan kita perlu membangun tidak hanya ‘penyadaran’, tapi juga ‘pemahaman’ tentang ekonomi Islam pada umumnya, dan Dinar serta Dirham pada khususnya. Perlahan kita ajak masyarakat untuk tidak saja menggunakan Dinar sebagai tabungan dan pengaman harta kita dari gerusan inflasi, namun juga lebih jauh lagi sebagai alat tukar dan modal yang melancarkan sector riil.

Kita harus pahamkan juga, bahwa gerakan kembali ke Dinar ini bukanlah semata gerakan ekonomi, melainkan juga memiliki dimensi-dimensi spiritual dan ketuhanan.

Wallahua'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment