GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Minggu, 04 April 2010

MENETAP DI BUMI BERSAMA INFLASI



Umat Islam terperosok ke dalam keterpurukan ekonomi secara merata di muka bumi ini bukan karena Islam tak memberi jawaban atas banyak persoalan yang kita hadapi. Karena teori, blueprint hingga petunjuk pelaksanaan keuangan Islam telah nyata ada dan diwujudkan dalam praktek di awal-awal kekhalifahan Islam, bahkan dari masa awal kehidupan bernegara yang dijalankan lengkap di Madinah, setelah Hijrah. Dan bukti kesuksesan praktek ekonomi Islami itu telah terbukti hasilnya membawa kemakmuran bagi seluruh isi bumi, tidak hanya manusia, apalagi hanya untuk kemakmuran pemeluk agama Islam. Karena sejarah telah menunjukkan bahwa perhatian Islam juga menjangkau pemeluk agama lain untuk membangun keharmonisan bermasyarakat, bahkan hingga mengatur ekosistem lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam.

Jika kita membuka lembaran-lembaran sejarah untuk melihat sejarah umat Islam, niscaya kita akan mengetahui bahwa umat Islam ketika menempuh metodologi (manhaj) Islam dalam segala aspek kehidupannya, maka mereka hidup dalam kejayaan, kecemerlangan, dan mampu merealisasikan banyak kemajuan dan penemuan. Sebab sejarah telah merekam keagungan para penakluk wilayah baru, berbagai kisah indah orang-orang yang adil, dan keutamaan orang-orang yang melakukan kebaikan dan perbaikan. Dimana umat Islam mempu menebarkan keutamaan menyingkirkan kenistaan, memupuskan keberhalaan, menunjuki manusia kepada jalan kebenaran, dan memberikan kepada mereka apa yang mampu merealisasikan kebahagiaan dalam urusan dunia dan akhirat.

Bahkan jejak-jejak kejayaan Islam itu, meskipun perlahan pudar, sesungguhnya baru saja benar-benar hilang, bersama runtuhnya kekhalifahan Ustsmani pada awal abad 20.

Dan yang perlu kita pahami, keterpurukan ekonomi yang berujung hilangnya harga diri dan kewibawaan Islam seperti ini terjadi justru karena kita tidak berpegang pada system ekonomi dan moneter yang menjadi tuntunan agama.
Pada masa kekhalifahan pasca Khulafaur Rasyidin, gejala itu sesungguhnya mulai terjadi, dimana para penguasa mulai meninggalkan nilai-nilai Islam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Misalnya pada jaman Abassiyah, penguasa mulai membina hubungan mesra dengan para bankir Yahudi, bahkan berhutang banyak pada mereka. Pada masa ini perbankan ribawi mulai tumbuh dan berkembang. Para pejabat negara mulai hidup bermewah-mewah, bergelimang harta, bahkan terjerat hutang. Contohnya Hamid bin Abbas harus membayar denda hutangnya sebesar 20.000 Dinar.

Bandingkan dengan contoh kehidupan sederhana yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Ketika praktek ekonomi mulai meninggalkan nilai-nilai Islami, termasuk diantaranya eksperimentasi Sultan Kamil Ayyubi pada masa pemerintahan Bani Mamluk yang memperkenalkan mata uang baru selain Dinar dan Dirham, yaitu Fulus yang terbuat dari campuran tembaga, maka kerusakan mulai terjadi. Karena pencetakan fulus ini, beberapa kepala pemerintahan Bani Mamluk terinspirasi untuk menambah jumlah uang. Pemerintah mulai terlena dengan kemudahan mencetak uang baru, dan mereka mencetaknya dalam jumlah sangat besar dan dengan seenaknya mencantumkan angka nominal yang lebih besar dari kandungan logamnya. Akibatnya ? Uang yang sesungguhnya (Dinar dan Dirham) hilang dari peredaran, dan harga-harga melambung tinggi – inflasi terjadi.

Taqiuddin Ahmad bin Ali al-Maqrizi (1364 – 1441), salah seorang murid Ibnu Khaldun, menyatakan bahwa inflasi terbagi dua yaitu :
- Inflasi natural (akibat berkurangnya persediaan barang), dan
- Inflasi akibat kesalahan manusia

Inflasi natural pernah terjadi pada jaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, yaitu karena kekeringan atau peperangan. Pada saat inflasi terjadi pada masa Umar bin Khattab dimana terjadi paceklik, beliau mengimpor gandum dari Fustat (Kairo) ke Madinah. Akibatnya harga gandum turun.

Sementara inflasi akibat kesalahan manusia, menurut al-Maqrizi, terjadi karena 3 hal yaitu :
1. Korupsi dan administrasi yang buruk
2. Pajak berlebihan yang membebani pelaku usaha
3. Jumlah uang buruk (uang kertas di masa kita, atau fulus dimasa itu) yang beredar berlebihan.

Lihatlah inflasi yang harus kita tanggung saat ini, inflasi natural atau inflasi yang jadi ‘azab’ karena kesalahan tangan manusia ? Dengan melihat ciri-cirinya, meskipun pahit, harus kita akui bahwa kitalah yang membuat kerusakan dan harus dengan rela hati menjalani hidup bersama inflasi yang terus mengiringi.

Al-Maqrizi mengeluarkan teori ini 6 abad lalu dalam situasi yang ternyata, kita ulangi saat ini. Korupsi merajalela, administrasi berbelit dengan biaya tinggi, pajak tinggi bagi pelaku usaha meski belum jelas apa bentuk ‘return’ riil yang diterima rakyat, dan uang telah jadi sesuatu yang tak berharga. Uang telah menjelma menjadi komoditas, dimana lembaga keuangan dan perorangan berusaha mencari untung dari transaksi uang, bukan meraih keuntungan dari sector riil. Uang juga menjelma hampa karena tak terikat dengan backup emas tertentu, otoritas juga dengan sesukanya mencantumkan satuan-satuan nominal di uang yang sejatinya adalah tumpukan kertas itu.

Jika Ibnu Taimiyah (1263 – 1328) bisa memperbaiki keadaan ekonomi pada masa pemerintahan Nasir Hasan, salah satunya dengan cara meminta sultan untuk menyatakan fulus tak berlaku serta melarang pencetaakan uang berlebihan dan dihetikannya praktek perdagangan uang, tampaknya saat ini seluruh ekonom harus meneriakkan gagasan yang sama untuk MENOLAK INFLASI.

Satu hal yang bisa kita lakukan sekarang juga adalah, pada tingkat pribadi, mengembalikan praktek transaksi menggunakan uang yang hakiki - bukan uang buruk yang hampa, yaitu Dinar dan Dirham. Insha Allah.

Wallahua'lam

Sumber
1. Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar & Dirham, M. Iqbal, Spiritual Learning Center & DinarClub, 2007
2. Ekonomi Islam, Suatu Kajian Kontemporer, Ir. H. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P., Gema Insani Press, 2001
3. Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab, Dr. Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi, Khalifa, 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment