GOLD PRICE IS IN YOUR HAND!!

Unduh gratis aplikasi pemantau harga emas kami, untuk pengguna BlackBerry klik http://www.salmadinar.com/ota dan pengguna Android klik http://www.salmadinar.com/android langsung dari device Anda

24hr Gold Dinar Chart

24hr Gold Dinar Chart

Minggu, 25 April 2010

REFORMASI MONETER UMAR IBN KHATTAB


Dalam kajian-kajian disiplin ilmu bisnis dan marketing dua tahun belakangan ini, kita kerap mendengar istilah CHAOTIC. Atau CHAOS market, juga CHAOS situation. Saya juga pernah share sebuah tulisan lainnya sebelum ini yang berjudul "2010 : Welcome to the New Normal" (silakan ke www.salmadinar.com bagi yang ingin membaca secara lengkap), yang mengulas isu yang sama, namun lebih banyak dari sisi keuangan pribadi dan rumah tangga.

Dalam situasi chaos, yang terjadi adalah perubahan yang sangat cepat dan massive di lingkungan ekonomi, kompetisi dan pasar/konsumen. Dampak yang dirasakan pelaku usaha bisa sangat mematikan, berbeda dengan tantangan bisnis biasa yg terjadi sesekali, menimbulkan riak-riak kecil dan lokal sifatnya. Kita tentu ingat bagaimana raksasa Nokia pada tahun 2008 masih menjadi pemimpin pasar handset (handphone) di Indonesia, bisa tergusur tanpa aba-aba pada 2009 ditumbangkan Blackberry. Dan ini tak terjadi hanya di pasar domestik, namun juga di banyak negara. Demikian juga GM (General Motors) yang masuk jurang hanya dalam 5 tahun setelah terlilit permasalahan internal, kemudian benar-benar dibuat KO oleh krisis financial terakhir yang terjadi 2008 – 2009 lalu.

Bagi perekonomian sebuah negara, chaos yg terjadi dan mempengaruhi lingkungan industri bisa menyapu dalam sekejap pilar-pilar ketahanan ekonominya, apalagi bagi negara yg dibangun dari indikator kemakmuran semu, yang 'maju dan sejahtera' hanya di hitungan atas kertas dan laporan kinerja keuangan semata.

Dalam perencanaan bisnis maupun RAPBN, ekonomi adalah aspek uncertain (ketidakpastian) yang selalu muncul jadi momok. Itu berlaku di industry apapun dan negara manapun. Sudah pun uncertain, impaknya sangat besar jika terjadi. Apa jadinya jika harga minyak dunia naik dari USD 65 menjadi 130 dalam waktu 2 bulan ? Seluruh rencana jadi buyar, strategic planning yang dibuat untuk rentang 10 tahunan harus direvisi seketika, asumsi-asumsi tinggal cerita.

Apa jadinya jika sekelompok debitur, yang tak qualified dari awalnya, gagal bayar untuk kredit rumah yang sebetulnya memang tak pantas mereka miliki ? Krisis financial yang awalnya menumbangkan para pemain raksasa bisnis keuangan yang belum berlalu kemarin itulah akibatnya. Dan industry yang menikmati jasa keuangan semisal mereka, dimanapun, kena dampaknya. Beberapa perusahaan di Indonesia juga.

Maka diantara banyak solusi menghadapi situasi seperti ini, baik negara atau badan usaha, para ahli menganjurkan salah satunya adalah dengan reposisi diri, kembali ke kompetensi dan nilai inti. Istilah kerennya : menemukenali inti diri dan kembali ke DNA-nya. Karena DNA adalah ciri khas, pembeda utama. Dengan idealisme, nilai dan prinsip inti itu, sebuah negara atau organisasi bisa menjalankan aktivitas usaha dengan passion-nya. Dan passion melahirkan usaha tak kenal henti, inovasi, sensitivitas dan kelincahan yang tinggi dalam menghadapi berbagai situasi. Kesiapan untuk bergerak dan berubah itulah sesungguhnya bekal esensial menghadapi situasi chaos yang terjadi.

Dalam kacamata umat Islam, DNA itu adalah Al-Islam itu sendiri. Sesuatu yang telah kita punya dan membuat kita berbeda dan unggul dari ummat lain. Fitrah yang telah Allah anugerahkan untuk kita.

Situasi tak menentu sekarang sesungguhnya memberikan peluang kita untuk melakukan reformasi moneter. Dunia haus dan merindukan jawaban, dan kita seharusnya membawa Islam maju ke panggung terdepan untuk membawa solusi. Dengan cara apa ? Kembali ke DNA yaitu ajaran Al-Islam. Dan salah satu disiplin dalam penegakan ekonomi Islam adalah pengelolaan moneter / keuangannya.

Mengapa reformasi moneter ? Karena uang merupakan salah satu faktor kekuasaan dan kemandirian ekonomi. Karena itu uang merupakan salah satu bidikan terpenting dalam perang ekonomi antar negara. Ketika ekonomi suatu negara akan diguncangkan atau dijatuhkan, maka segala rekayasa diarahkan, sebagai prioritas utama, kepada uang negara tersebut. Goyahnya nilai uang, akan membuat goyahnya ekonomi secara keseluruhan. Tak lama, kemerdekaan, harga diri dan hak-hak negara terenggut.

Sebagai acuan, kita bisa melihat bagaimana khalifah Umar ibn Khattab melakukan reformasi moneternya kala itu :
1. Islam melarang setiap hal yang berdampak pada bertambahnya gejolak dalam daya beli uang, dan ketidakstabilan nilainya yang hakiki, dengan cara :
a. Pengharaman perdagangan uang, yaitu dengan mengharamkan riba yang merupakan salah satu persoalan terbesar moneter hingga saat ini
b. Pengharaman penimbunan, dikarekan dampaknya terhadap harga dan daya beli uang. Bandingkan dengan saat ini dimana penabung justru diiming-imingi hadiah agar memperbesar tabungan yang artinya uang tertimbun di bank.
c. Pengendalian inflasi, diantaranya dengan cara pengawasan kestabilan uang dan kebijakan politik yang mengarah padanya
2. Memastikan tak beredarnya uang palsu, terutama Dirham dengan terlalu banyak campuran logam tak berharga di dalamnya, karena uang berperan sesuai fungsinya dan terlindungi nilainya jika murni dan dipercaya rakyat.
3. Mengendalikan inflasi, cukup dengan menghimbau rakyat agar menginvestasikan uang (pada sector riil), sederhana dalam pembelanjaan, melarang berlebiih-lebihan dan menghambur-hamburkan uang.
4. Penyatuan uang / mata uang tunggal, karena selain mencerminkan upaya ekonomi, hal ini juga menunjukkan kesatuan politik dan kepemimpinan. Dasar penyatuan ini adalah sabda Rasulullah SAW “Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, sedangkan takaran adalah takaran penduduk Madinah”. Implikasi kebijakan moneter yang satu ini tampak pada pencetakan Dirham sesuai timbangan syar’i dan Dinar, sebuah standar baru dalam moneter Islam yang kemudian menjadi acuan generasi-generasi Islam berikutnya.

Inilah jawaban Islam atas segala persoalan ketidakpastian ekonomi saat ini. Islam adalah pandangan hidup sekaligus jatidiri seorang muslim. Akankah kita bergegas kembali padanya ?

Allahua'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment